Rohman Juga SheilaGank
sheilagank
Kamis, 15 Desember 2011
keseharian ayah
Seperti halnya anak-anak yang lain, dalam hatinya ia sangat membutuhkan kasih sayang ayahnya, ayah yang selama ini harus membanting tulang dan rela tersengat matahari yang membakar tubuhnya, hanya untuk menafkahi anaknya.
Ia berjalan seorang diri, langkah demi langkah ia lewati dan ia pun berhenti karena ia menemukan sesosok lelaki yang tua dan bungkuk tengah bekerja, kemudian sang anak itu melihatnya dengan mata yang berbinar-binar. Tak lama kemudian setelah itu lelaki tua itu beristirahat sebari memulihkan tenaga yang telah terkuras, sang anak itu kemudian duduk jauh dari lelaki tua itu, ia melihat betapa kasihannya lelaki tua yang tengah beristirahat itu, keringat yang deras mengalir, tubuh yang bungkuk dan tua itu harus bekerja mati-matian untuk menghidupi keluarganya.
Beberapa lama kemudian lelaki tua itu berdiri dan melanjutkan pekerjaannya yang terhenti itu, bekerja yang menghasilkan uang tak menentu, dalam hatinya lelaki tua itu berkata '' Wahai anakku inilah pengorbanan ayahmu, inilah yang hanya bisa ayah berikan untukmu, jadi janganlah kamu membantah orang tuamu, ayah tidak menginginkan apa-apa darimu, ayah hanya minta jangan bosan belajar dan berusaha supaya nasibmu tidak seperti nasibku''. Kemudia lelaki tua itu meneruskan pekerjaannya dan sampai mengeluarkan keeringat capainya.
Waktu terus berjalan dan lelaki tua itu masih saja bekerja, di tengah pekerjaannya ada suara orang memanggil Ayahh..!! Ayaahh..!!! lelaki tua itu berhenti sejenak dan dalam hatinya berkata '' Siapa ia..siapa yang telah memanggilku??, apakah ia anakku, anak yang telah kubesarkan dan sangat kusayangi ''. lalu lelaki tua itu menoleh dimana suara itu datang. dan ternyata yang ia lihat itu bukan anaknya melainkan hanya suara angin yang mendesir ditelinganya, dan kemudian lelaki tua itu melanjutkan pekerjaannya dan dalam hatinya berkata '' Jika yang memanggilku tadi adalah anakku, akan kupeluk ia dengan pelukan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya dan kuciumi kedua pipinya dengan ciuman ksaih sayang seorang ayah kepada anaknya ''.
Waktu terus berjalan, matahari yang tadinya terang kini mulai redup gelap dan kemudian lelaki tua itu memutuskan untuk pulang dan mengakhiri pekerjaannya pada hari itu.
Ia berjalan seorang diri, langkah demi langkah ia lewati dan ia pun berhenti karena ia menemukan sesosok lelaki yang tua dan bungkuk tengah bekerja, kemudian sang anak itu melihatnya dengan mata yang berbinar-binar. Tak lama kemudian setelah itu lelaki tua itu beristirahat sebari memulihkan tenaga yang telah terkuras, sang anak itu kemudian duduk jauh dari lelaki tua itu, ia melihat betapa kasihannya lelaki tua yang tengah beristirahat itu, keringat yang deras mengalir, tubuh yang bungkuk dan tua itu harus bekerja mati-matian untuk menghidupi keluarganya.
Beberapa lama kemudian lelaki tua itu berdiri dan melanjutkan pekerjaannya yang terhenti itu, bekerja yang menghasilkan uang tak menentu, dalam hatinya lelaki tua itu berkata '' Wahai anakku inilah pengorbanan ayahmu, inilah yang hanya bisa ayah berikan untukmu, jadi janganlah kamu membantah orang tuamu, ayah tidak menginginkan apa-apa darimu, ayah hanya minta jangan bosan belajar dan berusaha supaya nasibmu tidak seperti nasibku''. Kemudia lelaki tua itu meneruskan pekerjaannya dan sampai mengeluarkan keeringat capainya.
Waktu terus berjalan dan lelaki tua itu masih saja bekerja, di tengah pekerjaannya ada suara orang memanggil Ayahh..!! Ayaahh..!!! lelaki tua itu berhenti sejenak dan dalam hatinya berkata '' Siapa ia..siapa yang telah memanggilku??, apakah ia anakku, anak yang telah kubesarkan dan sangat kusayangi ''. lalu lelaki tua itu menoleh dimana suara itu datang. dan ternyata yang ia lihat itu bukan anaknya melainkan hanya suara angin yang mendesir ditelinganya, dan kemudian lelaki tua itu melanjutkan pekerjaannya dan dalam hatinya berkata '' Jika yang memanggilku tadi adalah anakku, akan kupeluk ia dengan pelukan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya dan kuciumi kedua pipinya dengan ciuman ksaih sayang seorang ayah kepada anaknya ''.
Waktu terus berjalan, matahari yang tadinya terang kini mulai redup gelap dan kemudian lelaki tua itu memutuskan untuk pulang dan mengakhiri pekerjaannya pada hari itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Berita Terbaru :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar